Aku benci menangis,
Karena saat aku menangis, semua kecerian hilang. Apa yang aku lihat, semuanya, berubah menjadi buram. Tertutup linangan air mata. Kepalaku sakit, rasanya seperti ada ribuan ton beban yang tertumpuk di dalamnya. Nafasku sesak. Setiap tarikan terasa sangat berat. Mataku lelah. Inging rasanya memejamkan mata, membuatnya lupa akan beratnya air mata yang terus mengalir. Tapi itu akan menjadi hal yang lebih buruk lagi. Karena pada saat aku ingin bangun, mataku terasa berat untuk membuka. Sepertinya sulit untuk bisa melihat lagi dunia. Kesedihan bagai mala petaka yang tampaknya tak akan pernah ada akhirnya.
Aku suka berbicara,
Ketika semua orang mendengar apa yang aku katakan, bereaksi seperti apa yang aku inginkan. Tertawa ketika aku ingin mereka tertawa. Takjub, sedih dan cemas ketika aku mengisahkan ceritaku. Tapi apakah orang yang bisa berbicara orang yang hebat? Mungkin tidak. Aku hanya merasakan kebahagiaan sesaat. Kebahagiaan ketika aku di dengar. Tapi mendengarkan? Aku kadang membencinya tapi menurutku itu pekerjaan paling mulia. Dengan mendengarkan kita bias belajar. Dengan mendengar kita bisa merasakan. Dengan mendengar kita bisa tersenyum, takjub, menangis dan jatuh cinta pada waktu bersamaan.
Aku ingin menikah,
Membina keluarga. Bersama seorang suami yang mencintaiku dan mungkin 2 orang putra yang selalu tersenyum padaku. Tapi apakah mereka yang nanti hidup bersamaku bisa menerimaku sepenuhnya? Menerimaku apa ada nya. Mau menemaniku di periode paling kelamku? Entah, tapi pertanyaan ku yang terbesar. Apakah aku dapat jadi penopang mereka? Menemani mereka apa pun yang terjadi kelak? Mencintai sepenuh hati, tanpa ada rasa ingin dibalas jasanya? Aku sendiri tak tahu jawabannya, namun dari lubuk hatiku yang terdalam, aku ingin mendapatkannya.
Karena saat aku menangis, semua kecerian hilang. Apa yang aku lihat, semuanya, berubah menjadi buram. Tertutup linangan air mata. Kepalaku sakit, rasanya seperti ada ribuan ton beban yang tertumpuk di dalamnya. Nafasku sesak. Setiap tarikan terasa sangat berat. Mataku lelah. Inging rasanya memejamkan mata, membuatnya lupa akan beratnya air mata yang terus mengalir. Tapi itu akan menjadi hal yang lebih buruk lagi. Karena pada saat aku ingin bangun, mataku terasa berat untuk membuka. Sepertinya sulit untuk bisa melihat lagi dunia. Kesedihan bagai mala petaka yang tampaknya tak akan pernah ada akhirnya.
Aku suka berbicara,
Ketika semua orang mendengar apa yang aku katakan, bereaksi seperti apa yang aku inginkan. Tertawa ketika aku ingin mereka tertawa. Takjub, sedih dan cemas ketika aku mengisahkan ceritaku. Tapi apakah orang yang bisa berbicara orang yang hebat? Mungkin tidak. Aku hanya merasakan kebahagiaan sesaat. Kebahagiaan ketika aku di dengar. Tapi mendengarkan? Aku kadang membencinya tapi menurutku itu pekerjaan paling mulia. Dengan mendengarkan kita bias belajar. Dengan mendengar kita bisa merasakan. Dengan mendengar kita bisa tersenyum, takjub, menangis dan jatuh cinta pada waktu bersamaan.
Aku ingin menikah,
Membina keluarga. Bersama seorang suami yang mencintaiku dan mungkin 2 orang putra yang selalu tersenyum padaku. Tapi apakah mereka yang nanti hidup bersamaku bisa menerimaku sepenuhnya? Menerimaku apa ada nya. Mau menemaniku di periode paling kelamku? Entah, tapi pertanyaan ku yang terbesar. Apakah aku dapat jadi penopang mereka? Menemani mereka apa pun yang terjadi kelak? Mencintai sepenuh hati, tanpa ada rasa ingin dibalas jasanya? Aku sendiri tak tahu jawabannya, namun dari lubuk hatiku yang terdalam, aku ingin mendapatkannya.
The Last Love Letter.
Pelajaran yang kudapat dari "Tengoku de kimi ni aetara"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar